Dianraditya's Blog











{December 31, 2010}   Kesenian Barongsai

Perkembangan Barongsai di Indonesia

Kesenian Barongsai, diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke 17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan. Barongsai di Indonesia mengalami masa maraknya ketika zaman oganisasi “Tiong Hoa Hwe Koan” yang didirikan pada tahun 1900. Dan “Tiong Hoa Hwe Koan” adalah salah satu utama dari perkembangan Tionghoa di Indonesia. Hampir setiap organisasi “Tiong Hoa Hwe Koan” di seluruh Indonesia memiliki perkumpulan Barongsai.

Namun perkembangan Barongsai terhenti saat rezim orde baru Soeharto pada tahun 1965 setelah meletusnya Gerakan 30 S/PKI, karena situasi politik pada waktu itu dan segala macam bentuk kebudayaan Tionghoa di Indonesia dibungkam, sehingga Barongsai dimusnahkan dan tidak boleh dimainkan lagi.

Setelah tahun 1998, setelah runtuhnya rezim Soeharto dan sejak pemerintahan Gus Dur dan Megawati, kesenian Barongsai sebagai bagian dari kebudayaan Tionghoa mengalami kebangkitan dan diperbolehkan tampil di depan umum. Kebangkitan kebudayaan Tionghoa sendiri tidak terlepas dihilangkanya Inpres RI No : 14 tahun 1967, yang melarang melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan Cina, termasuk merayakan Imlek secara terbuka, menampilkan atraksi Barongsai, Naga dan lain sebagainya.

Dengan dihilangkannya Inpres RI No ; 14 tahun 1967, beberapa tahun belakangan ini, perkumpulan-perkumpulan Barongsai baru tumbuh di berbagai kota di Indonesia. Bahkan sekarang sudah berdiri Organisasi Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin). Kebangkitan seni Barongsai di Indonesia mendapat sambutan yang menggemberikan dari warga Tionghoa. Kini tidak hanya warga etnis Tionghoa Indonesia saja yang menikmati kesenian Barongsai tetapi warga etnis lain pun dapat ikut berpartisipasi dalam memeriahkan tarian singa (Barongsai).

Tarian Singa (Barongsai)

Catatan pertama tentang tarian singa (Barongsai) ini bisa ditelusuri pada dinasti Chin pada abad ketiga sebelum masehi. Menurut kepercayaan orang Cina, Singa merupakan lambang kebahagiaan dan kesenangan. Tarian Barongsai juga dipercaya dapat membawa keberuntungan sehingga diadakan di berbagai acara penting seperti pembukaan restoran, pendirian kelenteng dan tentu saja perayaan tahun baru.

Tarian Barongsai terdiri dua jenis utama yakni singa utara dan singa selatan. Singa utara disebut juga Peking Lion (singa Peking) tubuhnya lebih pendek, berkaki empat dan tidak bertanduk sehingga kelihatan seperti singa. Warnanya didominasi warna merah, orange dan kuning. Dalam pertunjukkannya, singa utara (singa Peking) lebih banyak melakukan gerakan akrobatik, lincah dan berpasangan. Dalam berpasangan, singa jantan mengenakan pita panjang merah dikepalanya sementara singa betina mengenakan pita panjang hijau. Selain itu, pertunjukkan singa utara  (singa Peking) lebih ditunjukkan untuk hiburan, seperti bermain di istana kaisar.

Singa selatan disebut juga Cantonese Lion (singa Cantonese) memiliki sisik, bertanduk, mata besar serta jumlah kaki yang bervariasi antara dua atau empat sehingga kelihatan seperti Kie Lien. Warnanya lebih bervariasi. Pertunjukkan singa selatan (singa Cantonese) dipertunjukkan untuk mengusir roh jahat, maka di depan kepalanya dipasang cermin kecil untuk memantulkan roh negatif dan ditanduknya diikat sehelai kain merah. Cermin dan kain merah itu merupakan kombinasi yang dianggap mempunyai kekuatan besar untuk mengusir roh jahat.

Tujuan dari tarian Barongsai biasanya merebut amplop merah berisi uang atau Angpao  (Lay See) yang diikat dengan sawi hijau / selada air yang biasanya digantung antara 4 sampai 6 meter di atas permukaan tanah. Perebutan Angpao ini sering menjadi objek kompetisi sengit antara perkumpulan sehingga menjadi sebuah pertunjukkan yang menarik bagi para penonton serta dapat menilai Barongsai mana yang lebih unggul.

Dalam tarian ini biasanya terdapat seorang penari yang berada di depan sambil mengenakan topeng dan membawa kipas. Tokoh ini disebut sang Buddha. Tugasnya adalah menggiring sang Singa ke tempat di mana amplop berisi uang disimpan.

Dalam melakukan tarian Barongsai, umumnya dapat diperagakan dalam dua gaya, yaitu gaya bebas dan gaya koreografi. Untuk gaya bebas, biasanya mengimprovisasikan sendiri gerakannya dan gaya bebas digunakan ketika Barongsai melakukan perjalanan parade melewati kompleks perumahan atau pertokoan dalam merayakan Imlek. Sementara gaya koreografi, biasanya sudah ditentukan sebelumnya, hal ini tergantung dari pilihan dan situasi yang membutuhkan dan gaya koreografi dimainkan saat acara pertunjukan panggung, pertandingan atau acara khusus lainnya.

Untuk melakukan pertunjukkan atau tarian Barongsai ada beberapa hal yang harus dikuasai dalam gerakan-gerakan singa seperti cara berdiri, berjalan, mencakar, istirahat, memanjat, berlari, melompat, berguling, berkedip mata dan membersihkan kuping dengan kaki serta menguasai urutan fase permainan seperti tidur, pembukaan, bermain, mencari sesuatu, makan, penutupan dan tidur kembali. Barongsai juga mempunyai formasi / gerakan tertentu, tergantung dari aliran perkumpulan Barongsai sendiri. Maka dalam permainan Barongsai, setiap pemain dituntut untuk memiliki fisik sehat, kuat, reaksi cepat, fleksibel, stamina kuat, gesit, lincah dan memiliki kuda-kuda dan otot yang kokoh. Karena itu, perkumpulan Barongsai berawal dari perguruan silat. Tapi sekarang banyak perkumpulan Barongsai yang didirikan dari perkumpulan seni budaya dan bukan hanya dari perguruan silat saja.

Barongsai pada umumnya bisa digunakan setelah melewati ritual pencucian atau pembukaan mata terlebih dahulu (Dian Jing), tujuannya ialah membangkitkan dan mendapatkan restu serta spirit kepada Barongsai baru. Setelah itu secarik kain merah diikatkan pada tanduk Barongsai sebagai lambang dari singa yang sudah jinak. Kemudian Barongsai perlahan-lahan membuka mulut, menggoyang kuping dan bangkit sambil diiringi dengan tambur, gong dan gembreng, lalu memberikan penghormatan tiga kali kemudian penghormatan tiga kali lagi ke arah altar (meja sembahyang). Ritual ini dilakukan sebelum memulai debut perdananya pada Barongsai baru.

Sementara untuk Barongsai lama sebelum dan sesudah main, Barongsai harus melakukan ritual penghormatan dengan membungkuk tiga kali. Penghormatan ini juga dilakukan bila Barongsai melakukan atraksi keliling melewati vihara dan kelenteng atau rumah abu, maka Barongsai diwajibkan melakukan penghormatan tiga kali dengan membungkuk.

Penghormatan juga dilakukan lagi bila dua Barongsai bertemu di jalan dari kelompok beralinan, maka masing-masing harus memberikan penghormatan dan tidak boleh mengangkat kepala lebih tinggi dari yang lain, mulut harus tertutup kalau bertemu dengan Barongsai yang lebih senior, Barongsai muda harus merendahkan kepalanya sebagai tanda pernghomatan kepada Barongsai yang lebih senior.

Penghormatan dilakukan lagi jika Barongsai sebelum masuk atau keluar bangunan harus memberikan penghormatan terlebih dahulu, kalau sekiranya di dalam bangunan ada meja sembahyang, maka Barongsai harus memberikan penghormatan yang sama terhadap meja sembahyang itu. Masuk atau keluar dari sebuah bangunan, buntut Barongsai harus terlebih dahulu melewatinya kemudian menyusul kepalanya dan biasanya kaki kiri terlebih dahulu yang melangkah.

Sementara untuk Barongsai tua yang sudah meninggal (karena rusak dan sudah lama usianya) secara tradisi bagian kepala Barongsai dilakukan pembakaran sebagai bentuk pemakaman yang layak.

Di dalam pertunjukkan Barongsai, selalu diiringi musik yang khas. Perangkat musik yang digunakan untuk mendampinginya yaitu tambur, gong dan simbal. Dalam memainkan instrument musik, ada dua metode, yaitu instrument musik mengikuti pergerakan Barongsai atau Barongsai mengikuti irama dan tempo musik. Tergantung pilihan, kesepakatan antara pemain dan situasi.

Metode pertama pada umumnya, pemain tambur mengikuti irama dan tempo gerakan Barongsai, jadi Barongsai yang menentukan irama permainan dan pemain tambur harus siap setiap saat mengantisipasi setiap perubahan gerakan Barongsai yang mendadak. Sementara pemain gong dan simbal mengikuti pemain tambur.

Metode kedua, pemain tambur jadi pemain terpenting dalam permainan Barongsai karena pemain tambur yang menentukan irama, urutan, tempo, isi, tanda dan pola permainan. Pemain tambur harus dapat menguasai lapangan dan berimprovisasi, memberikan panduan, mengantisipasi terhadap situasi yang tidak terduga sebelumnya serta menjaga kekompakan dan keselarasan dari keseluruhan tim. Sementara pemain Barongsai harus siap bereaksi dan mengkordinasikan gerakannya dengan irama tambur, gong dan simbal, sehingga permainannya terlihat harmonis.

Dalam perkembangannya sekarang, pertunjukkan Barongsai telah diadakan kompetisi Internasional antar bangsa, seperti yang telah beberapa kali diselenggarakan di Malaysia setiap tahunnya. Kompetisi ini menilai kemampuan tim-tim Barongsai dari mancanegara untuk merebut gelar “World Lion King”. Di kompetisi ini kriteria penilaian juri dilihat dari kreativitas, daya improvisasi, kemampuan akrobatik, keharmonisan, keunikan, tingkat kesulitan, teamwork, keindahan kostum dan instrument tambur. Tingkat permainan yang paling sulit di kompetisi Barongsai ini adalah permainan di atas tiang-tiang yang bervariasi ketinggiannya dari 0, 8 meter sampai dengan meter dan setiap tim Barongsai diberi waktu maksimal 15 menit untuk mempertunjukkan kemampuannya.

Pembuatan Barongsai

Kurang lengkap membicarakan kesenian Barongsai tanpa tahu proses pembuatan Barongsainya sendiri. Lili Hambali, Eka Tresna, dan Ading Zaenudin, mereka bertiga pengrajin Barongsai dari Bogor. Bapak Lili terlibat dalam proses pembuatan kerangka kepala dan penempelan stiker, untuk pengecetan dan pelukisan diserahkan kepada bapak Eka tresna, sementara pembuatan kostum badan dan pemain diserahkan kepada bapak Ading Jaenudin.

Pembuatan Barongsai dimulai dari proses pembuatan kerangka kepala, bahan yang diperlukan rotan dan bambu. Dalam menentukan ukuran kepala tidak sembarangan, harius sesuai ukuran standar. Ukurannya bervariasi, mulai dari nomor 1 yang berdiameter 160 cm merupakan ukuran terbesar dan ukuran nomor 6 diameter 120 cm merupakan ukuran terkecil dan biasanya digunakan oleh anak SD.

Setelah pembuatan kerangka selesai, Lili dibantu seorang asisten menempelkan lembar demi lembar kertas roti dengan lem ke seluruh permukaan kecuali mata. Kertas roti dipilihnya karena mengandung serat sehingga mudah mengikuti bentuk kerangka barong. Setelah semua bagian tertutupi dengan kertas roti, bagian Lili menempelkan stiker hologram mengelilingi kepala Barong.

Setelah penempelan stiker, bagian Eka proses pengecatan dan pelukisan. Cat dasar yang digunakan adalah cat tembok warna putih, cat dasar ini dipakai untuk bagian gigi dan lidah saja. Kemudian Eka mengecat dengan warna pokok untuk bagian mulut dan kepala barong. Cat yang digunakan semacam cat mobil, cat tembok dan cat sablon.

Pada pelukisan arsiran motif api inilah tahap yang paling sulit karena dibutuhkan kesabaran dan ketelitian yang bagus. Bila terjadi sedikit saja kesalahan, Eka harus memutar otaknya untuk memperbaiki goresan catnya.

Di tempat lain, Ading tengah membuat kostum barong. Di awali pembuatan pola dasar, dilanjutkan memotong kain payet sesuai pola dasar, kemudian memotong bulu dengan teliti Ading memansang Pashmen ke kain payet yang sudah di pola. Finishingnya, Ading menjahit payet yang sudah lengkap dengan bulu dan pashmennya ke kain puring.

Dari hasil pembuatan Barongsai itu, Eka Tresna sebagai pelukis Barong, untuk honor lukis kepala, badan dan bolah sekitar Rp.500.000,- dan untuk honor sablon sekitar Rp 400.000,- sementara untuk Ading Jaenudin sebagai penjahit kostum Barong untuk ukuran 20 meter dibayar sekitar Rp.350.000,- untuk Lili Hambali sendiri, dia meraih keuntungan sekitar Rp.2.5 juta untuk setiap Barong yang diselesaikan sekitar 20 hari. Jadi, harga satu set Barong sebesar Rp.8 juta dikurangi pembelian dan honor pekerja.

Menurut Lili, tidak ada syarat dan pantangan tertentu dalam membuat Barong dan Liong. Yang diperlukan hanya ketenangan dan penuh konsentrasi dalam merangkai dan menempelkan kertas pada rangka yang dibuat dari bamboo dan pipa plastik.

Meskipun pesanan pembuatan Barongsai sejauh ini masih tergolong menjanjikan, namun pada kenyataannya perkembangan Barongsai di kota Bogor masih mengalami berbagai kendala, seperti masalah perizinan, pandangan masyarakat dan organisasi yang bergerak di lingkungan itu sendiri.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: