Dianraditya's Blog











{December 31, 2010}   Cerita Duka PSSI Masih Berlanjut

Buku putih telah ditutup. Selesai sudah babak akhir sebuah cerita heroik yang melelahkan. Apa boleh buat, Firman Utina dan kawan-kawan hanya menorehkan sebuah cerita yang berakhir antiklimaks.

Impian menjadi kampiun untuk pertama kalinya di arena Piala AFF kembali kandas. Empat kali lolos ke final, namun semuanya berakhir tanpa pernah mengangkat trofi juara di pengujung laga.

Kemenangan 2-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Rabu malam, menjadi sia-sia. Kalah selisih gol mengantarkan Harimau Malaya mencatatkan diri sebagai negara keempat ASEAN yang pernah menjadi juara menyusul Thailand, Singapura, dan Vietnam.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang berada di antara puluhan ribu penonton, berusaha tenang. Saya yakin di dalam hati presiden tergores perasaan duka menerima hasil akhir yang tak menggembirakan itu.

Kegagalan ini menambah sentimen masyarakat Indonesia kepada Malaysia. Kasus laser penonton yang mengganggu kiper Markus Horison menjadi salah satu pemicu.

Pada pertandingan leg 1 di Bukit Jalil, 26 Desember, secara mengejutkan pasukan Rajagobal itu bermain apik. Di sisi lain, timnas Indonesia seperti kehilangan arah dan koordinasi permainan. Skor kemenangan tanpa balas dibukukan tuan rumah Malaysia.

***

Sepak bola kembali menawarkan misteri kepada kita. Pada babak penyisihan, 1 Desember di Jakarta, pasukan Garuda tampil digdaya. Cristian Gonzales cs. berlaga nyaris tanpa cela. Kemenangan telak 5-1 atas Malaysia adalah bukti sahih.

Tapi, idiom bahwa bola itu bundar tetap berlaku di sepak bola. Hasil satu pertandingan tidak boleh menjadi patokan ke pertandingan lain. Skor di satu permainan bukan foto copy ke hasil berikutnya.

Objek sepak bola adalah manusia, karena itu sangat mudah melakukan perubahan. Ternyata Rajagobal sangat cerdik membalikkan posisi tertekan menjadi menekan, mengubah kekalahan 1-5 menjadi kemenangan 3-0.

Mengamati perjalanan kedua tim, saya melihat ada perbedaan yang cukup jelas. Indonesia melakukan start dengan kecepatan tinggi sehingga mampu memenangi semua lima pertandingan menuju final dengan koleksi gol 15-2. Namun, di partai puncak justru penampilan tim kita merosot.

Kondisi berbeda dialami Malaysia. Dari tiga pertandingan di babak penyisihan, Mohamad Safee cs. hanya membukukan sekali menang, sekali seri, dan sekali kalah. Begitu juga yang terjadi di semifinal melawan Vietnam, sekali menang dan sekali seri dengan total skor 8-6.

Apakah perjalanan Malaysia ke final sesuai dengan skenario atau tidak, yang pasti menunjukkan grafik menanjak. Hasil 3-0 atas Indonesia sungguh di luar dugaan kita yang tak menyangka spirit Malaysia sangat tinggi. Melakukan perubahan secara cepat dan menghasilkan kejutan di luar kalkulasi lawan diterapkan Rajagopal. Perubahan pola main, dari kecenderungan bertahan menjadi serangan penuh sejak menit awal, terbukti memberi hasil memuaskan.

Sebaliknya, pelatih timnas kita, Alfred Riedl, merasa mantap dengan tim inti sehingga hanya melakukan perubahan minor. Minimnya rotasi berdampak terkurasnya stamina dan fisik Okto Maniani cs. Euforia dan harapan penonton rupanya membuat Alfred hanyut berprinsip harus memenangi semua laga.

Partai ketiga babak penyisihan melawan Thailand, sebenarnya berapa pun Indonesia kalah, posisi juara grup sudah aman. Kemenangan atas Thailand memang menggembirakan tapi sekaligus membuka lubang kekhawatiran.

Total jenderal, Indonesia main tujuh kali, enam menang dan hanya sekali kalah dengan skor 17-6. Rekor Malaysia kalah mentereng, tujuh kali main, tiga menang, dua seri dan dua kali kalah, selisih gol 12-8 tapi berhasil menjadi juara.

***

Begitulah sepak bola, saran dan kritik biasanya datang belakangan. Nasi sudah lembek menjadi bubur, enak atau tidak, harus ditelan. Kemegahan yang sempat hinggap, kini terbang menjauh lagi.

Alfred telah memberikan sesuai kemampuan terbaiknya. Kemenangan beruntun sedikitnya mampu menggugah nasionalisme untuk mencintai negeri ini. Lihatlah bagaimana para penggemar dengan bangga mengenakan atribut tim nasional.

Dari sisi lain, ekonomi rakyat tumbuh mendadak. Bukan hanya pedagang yang berada di seputar Senayan, tapi juga merata di berbagai daerah. Penjualan kaus timnas warna merah menyala dan atribut lainnya secara luar biasa laku keras.

Inilah kerangka timnas yang kita impikan. Semoga tidak hancur di tengah jalan, tapi terus dipertahankan. Tim ini juga akan menjadi tulang punggung mengikuti Pra-Piala Dunia dan Kualifikasi Olimpiade.

Dari 30 pemain yang masuk daftar Alfred, boleh dikatakan terdapat 50 persen pemain muda. Mereka yang masih dalam proses pematangan, terutama usia 23 tahun diproyeksikan ke SEA Games 2011.

Memang menyedihkan merasakan kegagahan yang terbangun apik pada awalnya namun kemudian tersandung di langkah akhir. Begitulah makna sepak bola yang mengandung berbagai misteri dan terkadang sulit dianalisis logika.

Sia-sia bila kita terjebak dalam rasa frustrasi menerima kekalahan. Ada baiknya berpikir positif bahwa kekalahan adalah guru menuju kesuksesan. Pertanyaanya: Apakah PSSI cukup cerdas untuk belajar?

http://www.bolanews.com



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: